Dari Dapur Rusun, Ibu-Ibu Bergerak Cegah Stunting

Stunting masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat di Indonesia. Meski berbagai program telah dijalankan, angka stunting nasional masih berada di atas target. Di balik angka-angka tersebut, ada satu ruang paling penting yang sering luput disorot: dapur rumah tangga dan peran ibu di dalamnya.

Di Rumah Susun (Rusun) 23 Ilir, Kota Palembang, sebuah inisiatif berbasis komunitas membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari hal sederhana yaitu bekal makan anak.

Mengapa Stunting Tak Bisa Ditunda?

Stunting bukan sekadar soal tinggi badan anak yang kurang dari standar. Kondisi ini mencerminkan kekurangan gizi kronis yang berdampak pada perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas anak di masa depan. Jika tidak dicegah sejak dini, stunting dapat meninggalkan dampak jangka panjang, bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi kualitas sumber daya manusia suatu daerah.

Karena itulah, pencegahan stunting tidak cukup hanya melalui layanan kesehatan. Keluarga, terutama ibu, memegang peran kunci.

Isi Piringku: Konsep Sederhana, Dampak Besar

Salah satu panduan gizi seimbang yang mudah diterapkan adalah konsep “Isi Piringku”. Konsep ini mengajarkan pembagian porsi makan dalam satu piring:

  • setengah piring diisi makanan pokok dan sayuran,
  • setengah sisanya terdiri dari lauk pauk dan buah.

Sederhana, praktis, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Namun, pemahaman tentang konsep ini belum tentu dimiliki semua keluarga, terutama di kawasan padat penduduk seperti rumah susun.

Rusun Berdaya dan Beraksi: Ketika Ibu-Ibu Jadi Agen Perubahan

Melalui program “Rusun Berdaya dan Beraksi”, ibu-ibu di Rusun 23 Ilir diajak belajar, berdiskusi, dan berpraktik langsung tentang cara menyiapkan bekal gizi seimbang untuk anak-anak mereka.

Kegiatannya tidak monoton. Selain edukasi, ibu-ibu mengikuti:

  • permainan edukatif menyusun “Isi Piringku”,
  • penggunaan buku saku gizi berbasis bahasa dan pangan lokal,
  • demo memasak bersama kader posyandu,
  • hingga lomba memasak bekal gizi seimbang.

Suasana belajar dibuat menyenangkan dan kontekstual dekat dengan keseharian mereka.

Buku Saku Kecil, Perubahan Besar

Salah satu inovasi penting dari kegiatan ini adalah buku saku Isi Piringku. Buku ini dirancang ringkas, penuh ilustrasi, dan memanfaatkan contoh bahan pangan lokal yang mudah didapat dan terjangkau. Bahkan, di dalamnya terdapat kumpulan resep hasil kreasi ibu-ibu rusun sendiri.

Buku saku ini bukan sekadar media informasi, tetapi menjadi alat pemberdayaan yang membantu ibu merencanakan menu sehat secara mandiri.

Hasil Nyata di Lapangan

Hasil evaluasi menunjukkan perubahan yang signifikan. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan:

  • pengetahuan ibu tentang gizi seimbang meningkat,
  • sikap terhadap pemberian bekal sehat menjadi lebih positif,
  • dan ibu-ibu menjadi lebih percaya diri dalam menyiapkan makanan bergizi untuk anak.

Secara statistik, peningkatan ini terbukti signifikan. Namun yang lebih penting, perubahan tersebut terlihat nyata dalam praktik sehari-hari.

Kolaborasi yang Menguatkan

Program ini tidak berjalan sendiri. Keterlibatan puskesmas, pemerintah kelurahan, kader posyandu, dunia usaha melalui CSR, hingga media massa memperkuat dampak kegiatan. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa pencegahan stunting memang membutuhkan kerja bersama.

Dari Rusun untuk Masa Depan Anak

Kisah dari Rusun 23 Ilir membuktikan bahwa pencegahan stunting tidak selalu harus dimulai dari program besar dan rumit. Ketika ibu-ibu diberi pengetahuan, keterampilan, dan ruang untuk berdaya, perubahan nyata bisa terjadi.

Dari dapur kecil di rumah susun, langkah besar untuk masa depan anak-anak Indonesia pun dimulai.

sumber: https://journal.unhas.ac.id/index.php/panritaabdi/article/view/40284

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *